PASAR FINANSIAL

Perawat di Cirebon Laporkan Dokter Spesialis atas Dugaan Penganiayaan, Polisi Periksa Pelapor dan Saksi



Cirebon, idmpos.net -

Seorang perawat berinisial T (30), warga Kabupaten Majalengka, melaporkan dugaan penganiayaan yang melibatkan dokter spesialis berinisial To di sebuah rumah sakit swasta di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.

Korban mengaku mengalami kekerasan pada Kamis (8/10/2026), mulai dari tamparan dan pukulan di hidung hingga tendangan di kepala.

Peristiwa itu dilaporkan kepada polisi pada Jumat (9/10/2026).

Satreskrim Polresta Cirebon kini menangani perkara tersebut.

Kasus ini masih dalam tahap penyidikan sehingga rangkaian kejadian dan dugaan motifnya perlu dipastikan melalui proses hukum.

Polisi Periksa Pelapor, Terlapor, dan Saksi

Kasat Reskrim Polresta Cirebon, Kompol Irfan Alireja, membenarkan adanya laporan dugaan penganiayaan tersebut.

Penyidik Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) telah memeriksa sejumlah pihak yang berkaitan dengan perkara.

“Benar, laporannya sudah ada. Sekarang sedang dilakukan penyidikan oleh penyidik Unit Perlindungan Perempuan dan Anak,” kata Irfan.

Ia menyebut pemeriksaan telah dilakukan terhadap pihak yang melapor, orang yang dilaporkan, serta saksi.

“Yang sudah diperiksa oleh penyidik, pelapor, terlapor, dan juga saksi,” ujarnya.

Korban Mengaku Diseret Kembali ke Ruangan

Dalam keterangannya kepada media pada Senin (12/10/2026), T menceritakan upayanya melarikan diri setelah mengalami kekerasan. Ia menyebut sempat memanfaatkan kesempatan ketika dokter yang dilaporkannya keluar untuk mengambil tisu.

“Hidung saya sudah berdarah, pelaku bilang tunggu sebentar saya mau ambil tisu dan setelah pelaku pergi saya langsung mencoba lari dari ruangan tersebut untuk meminta pertolongan,” ucapnya.

Namun, menurut pengakuan korban, upaya tersebut diketahui oleh dokter itu saat dirinya hendak menggunakan lift. Ia mengaku diseret kembali ke ruangan sebelumnya dan kembali mengalami kekerasan.

“Saat mau kabur dengan menggunakan lift, saya malah ketahuan pelaku dan langsung saya diseret kembali ke ruangan, lalu saya ditendang di bagian kepala sampai saya nyaris pingsan,” ujar dia.

T mengaku akhirnya menghubungi keluarganya untuk meminta bantuan setelah dokter tersebut meninggalkannya di ruangan.

Korban menuturkan, peristiwa itu bermula saat dirinya sedang menjalankan pekerjaan di rumah sakit yang sama dengan dokter yang dilaporkan.

Di tengah aktivitas kerja, ia mengaku didatangi To dan diajak menuju sebuah ruangan di belakang tangga, dekat lift. Setibanya di sana, korban menyebut dirinya langsung dibentak dan ditampar.

“Datang ke ruangan itu, langsung dibentak dan ditampar, lalu hidung saya dipukul, sampai saya mau pingsan,” ujar korban, dalam keterangannya ke media, Senin (12/10/2026).

Pukulan di hidung itu disebut menyebabkan darah keluar dan membuat korban merasa hampir kehilangan kesadaran.

Penolakan Asmara Diduga Berkaitan dengan Peristiwa

T menduga penganiayaan yang dialaminya berkaitan dengan penolakannya terhadap perasaan asmara dokter tersebut. Namun, dugaan motif itu masih harus didalami oleh penyidik dan belum dapat dianggap sebagai kesimpulan akhir.

Hingga Senin (12/10/2026), polisi masih mengumpulkan keterangan dari pihak-pihak terkait untuk mengungkap kronologi kejadian serta menentukan langkah hukum selanjutnya.

Perkara ini menjadi perhatian karena dugaan kekerasan tersebut dilaporkan terjadi di lingkungan rumah sakit. Meski demikian, kepastian mengenai kejadian dan pertanggungjawaban pihak yang dilaporkan tetap menunggu hasil penyidikan kepolisian.

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال