idmpos.net-
Kabar buruk yang datang silih berganti, seperti bencana gempa, kasus korupsi, atau kebakaran hutan dan lahan (karhutla), bisa memicu kelelahan mental.
Belum selesai mencerna satu peristiwa, kabar lain sudah muncul dan menambah panjang daftar persoalan yang muncul di kepala.
Situasi tersebut membuat orang seolah tak punya banyak waktu untuk bernapas lega, di tengah berbagai isu yang terus berkembang.
Paparan berita buruk secara bertubi-tubi dari media sosial dan media massa dapat memicu kecemasan hingga rasa kewalahan tak tertahankan.
Psikolog Danti Wulan Manunggal mengatakan bahwa reaksi tersebut pada dasarnya merupakan hal yang manusiawi.
“Otak manusia secara alami dirancang untuk mendeteksi ancaman demi bertahan hidup, sehingga paparan berita negatif yang terus-menerus akan membuat sistem saraf berada dalam mode waspada tanpa henti,” kata dia kepada Kompas.com, Jumat (16/10/2026).
Namun begitu, ada suatu waktu hal tersebut dapat memengaruhi kondisi mental hingga seseorang dirasa perlu berkonsultasi dengan psikolog.
Lantas, kapan seseorang harus ke psikolog?
Waktu yang tepat untuk datang ke psikolog akibat berita buruk
Danti mengingatkan, bahwa berkonsultasi dengan psikolog bukan berarti seseorang adalah individu lemah. “Dan tidak perlu menunggu hingga mengalami krisis berat untuk mencari bantuan,” ungkapnya. Pertimbangkan untuk menjadwalkan sesi konsultasi jika mulai mengalami tanda-tanda berikut ini:
1. Perubahan emosi yang bertahan lama
Salah satu tanda yang perlu diketahui ketika adanya perubahan emosi yang bertahan lebih dari dua minggu.
“Rasa cemas, sedih, hampa, mudah marah, atau putus asa yang berlangsung terus-menerus dan tidak kunjung membaik meskipun sudah beristirahat atau menjauh sejenak dari pemicu stres,” papar Danti.
2. Aktivitas harian terganggu
Terganggunya fungsi dan aktivitas sehari-hari bisa menjadi tanda untuk mencoba untuk datang ke psikolog. “Ketika beban pikiran mulai membuat diri menjadi sulit berkonsentrasi saat bekerja atau belajar, kehilangan minat pada hobi yang dulu sangat disukai, atau membuat menarik diri dari lingkungan sosial,” kata Danti.
3. Muncul keluhan fisik
Lebih lanjut, tanda lain yang perlu diperhatikan adalah munculnya gangguan tidur, gangguan pola makan, hingga keluhan fisik (psikosomatis). Danti menyebutkan, stres yang menumpuk sering kali memberikan tanda atau “berbicara” melalui tubuh.
“Seperti sulit tidur (insomnia), sering terbangun dengan jantung berdebar, perubahan nafsu makan yang drastis, kelelahan ekstrem, hingga sakit kepala atau masalah lambung berulang tanpa penyebab medis yang jelas,” ujar dia.
4. Muncul pikiran menyakiti diri
Selanjutnya, orang yang mungkin sudah tidak mampu menerima aliran informasi buruk, mungkin akan mencari pelarian tidak sehat atau bahkan muncul pikiran untuk menyakiti diri.
Danti menilai, kebiasaan yang merugikan diri sendiri tersebut lama-kelamaan muncul seiring waktu. “Mulai mengandalkan kebiasaan yang merugikan diri sendiri untuk melupakan stres (maladaptive coping), atau muncul pikiran bahwa hidup tidak lagi berharga,” ucap dia.
“Segera hubungi profesional kesehatan mental, psikolog atau psikiater, untuk mendapatkan ruang pemulihan yang aman,” sambungnya.
Sumber: kompas.com
