idmpos.net-
Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan Selasa (13/10/2026), anjlok ke level Rp17.943 per dollar Amerika Serikat (AS).
Selain itu, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) juga melemah. Per pukul 09.32 WIB, IHSG turun 1,76 persen ke level 5.831,58.
Pelemahan rupiah melanjutkan tren yang terjadi sehari sebelumnya, ketika rupiah ditutup di angka Rp17.913 per dolar AS.
Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.30 WIB, mata uang garuda terdepresiasi 30 poin atau 0,17 persen ke posisi Rp 17.943 per dollar AS.
Pergerakan ini menunjukkan bahwa rupiah masih menghadapi tekanan di tengah ketidakpastian ekonomi global, terutama terkait arah kebijakan suku bunga bank sentral AS dan perkembangan geopolitik internasional.
Analis mata uang sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuabi, menilai pelemahan rupiah dipengaruhi oleh pernyataan sejumlah pejabat The Fed yang membuka peluang pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut.
Kebijakan tersebut menjadi perhatian pelaku pasar karena suku bunga AS berpengaruh terhadap pergerakan modal internasional dan nilai tukar berbagai mata uang, termasuk rupiah.
Selain faktor moneter, perkembangan geopolitik antara Rusia dan Ukraina turut menjadi perhatian investor.
IHSG Melemah
Pergerakan IHSG mengalami tekanan pada perdagangan Selasa (13/10/2026) pagi. IHSG dibuka melemah ke level 5.914,98.
Indeks kemudian bergerak turun hingga menyentuh angka terendah 5.828,67, sementara posisi tertinggi 5.918,29.
Tekanan jual mendominasi perdagangan saham Selasa pagi ini. Sebanyak 514 saham melemah, 136 saham menguat dan 114 saham bergerak stagnan.
Volume transaksi mencapai 12,78 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 3,165 triliun. Frekuensi transaksi sebanyak 401.743 kali.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta mengatakan tekanan IHSG dipicu aksi lepas portofolio pada saham-saham grup konglomerasi, setelah merebaknya spekulasi pasar terkait rumor penyesuaian bobot (rebalancing) atau sanksi dari indeks MSCI.
Kekhawatiran terhadap klasifikasi pasar Indonesia dan transparansi investabilitas saham membuat para investor lebih berhati-hati
“Di saat yang sama, apabila tekanan jual terkonsentrasi pada saham-saham berkapitalisasi besar, dampaknya terhadap IHSG menjadi signifikan meskipun kondisi fundamental sebagian emiten masih relatif bagus,” ujar Nafan, Selasa pagi.
Tekanan pasar juga diperparah oleh pelemahan nilai tukar rupiah 0,08 persen ke Rp 17.913 per dollar AS pada Senin kemarin, sejalan dengan penguatan indeks dollar AS atau US Dollar Index (DXY).
Nafan menilai, sentimen terhadap IHSG pada perdagangan Selasa (13/10/2026) masih cenderung negatif dengan volatilitas tinggi.
