Berita24 - Portal Berita Profesional

Headline Utama

Trending

Berita Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Tribun wiki. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tribun wiki. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Oktober 2023

Di Sumatra Utara Suku Mandailing Beserta Marga-marganya


 



Sumatra Utara,Pos62.Online-


Suku Mandailing.

Ini adalah satu diantara banyak suku yang ada di Sumatra Utara.

Secara etimologi, ada dua pendapat yang menyebutkan asal-usul nama Mandailing.

Pertama, ada yang berpendapat bahwa Mandailing berasal dari kata Mandala Holing.

Ini adalah sebuah federasi yang pernah hadir di daerah Tapanuli Selatan pada abad ke-12.

Kata ini tertera dalam Surat Tumbaga Holing (Serat Tembaga Kalinga).

Sebagian sosiolog juga berpendapat bahwa asal kata Mandailing berasal dari kata "mande hilang" dari bahasa Minangkabau yang berarti "ibu yang hilang".

Di Sumatra Utara, suku Mandailing tersebar di berbagai Kabupaten dan Kota.

Paling banyak, suku Mandailing menetap di Kabupaten Mandailing Natal dan Kabupaten Tapanuli Selatan.

Tidak hanya itu, suku ini juga menyebar ke Kabupaten Padang Lawas, Kabupaten Padang Lawas Utara, Kabupaten Labuhanbatu, Kabupaten Labuhanbatu Utara dam Kabupaten Labuhanbatu Selatan.

Kemudian, ada juga penyebarannya di Kabupaten Asahan, Kabupaten Batubara, dan meluas hingga ke Kota Medan dan sekitarnya.

Di Provinsi Lain

Tidak hanya di Sumatra Utara, suku Mandailing juga menyebar ke Sumatera Barat dan Riau.

Di Sumatera Barat, suku Mandailing tinggal di Kabupaten Pasaman dan Kabupaten Pasaman Barat.

Suku Mandailing juga terdapat di Kabupaten Rokan Hulu, Provinsi Riau.

Kemudian, ada juga penyebarannya di Kabupaten Asahan, Kabupaten Batubara, dan meluas hingga ke Kota Medan dan sekitarnya.

Di Provinsi Lain

Tidak hanya di Sumatra Utara, suku Mandailing juga menyebar ke Sumatera Barat dan Riau.

Di Sumatera Barat, suku Mandailing tinggal di Kabupaten Pasaman dan Kabupaten Pasaman Barat.

Suku Mandailing juga terdapat di Kabupaten Rokan Hulu, Provinsi Riau.

Etnis Mandailing, pada umumnya, mengelompokkan masyarakat ke dalam beberapa marga.

Adapun masing-masing marga selalu menempatkan diri sebagai keturunan asli dari seorang tokoh nenek moyang yang berlainan asal.

Silsilah keturunan dalam masyarakat Mandailing biasa disebut Torombo yang diawali dengan seorang tokoh leluhur suatu marga.

Adapun masyarakat Mandailing menganut sistem patrilineal sehingga marga diturunkan dari seorang nenek moyang dari garis laki-laki atau ayah.

Hingga kini, ada dua marga besar yang masih bertahan di Mandailing, yang Lubis dan Nasution.

Nenek moyang marga Lubis adalah Namora Pande Bosi, yang dikisahkan merupakan cucu dari seorang nakhoda kapal laut bernama Angin Bugis dari Pulau Sulu.

Sementara itu, marga Nasution memiliki nenek moyang bernama Si Baroar yang saat bayi ditemukan oleh Sultan Pulungan, seorang raja dari Huta Bargot di Mandailing Gondang.

Ada pula versi lain cerita yang menyebut bahwa orang pertama dengan marga Nasution adalah putra Raja Iskandar Muda dari Pagaruyung yang merupakan pusat Kerajaan Minangkabau di masa lalu.

Sejumlah peneliti dan tokoh membuat daftar marga-marga di Mandailing, berikut ini:

Menurut Abdul Lubis, marga-marga di Mandailing Julu dan Pakantan adalah:

Sinuraya

Ginting

Sembiring

Lubis

Nasution

Parinduri

Batubara

Matondang

Daulay

Nai Monte

Hasibuan


Sumber:Tribunmedan

Sabtu, 28 Oktober 2023

Hewan Mungil Menggemaskan dengan Kumis Panjang


 






Medan,Pos62.Online


Di belahan dunia lain, banyak hewan unik yang mungkin belum pernah kita lihat.

Satu diantaranya adalah Emperor Tamarin atau Tamarin Kaisar.

Hewan dengan nama Saguinus imperator ini hidup di kawasan hutan tropis Amazon yang luas.

Ia bisa ditemukan di wilayah Peru tenggara, Bolivia barat laut, dan Brasil barat laut.

Bahkan, Emperor Tamarin juga bisa ditemukan di aliran sungai di Peru, termasuk Acre, Purus, dan Jurua.

Menurut beberapa referensi yang ada, nama hewan ini diduga diambil dari nama Kaisar Jerman Wilhelm II.

Alasannya, karena sang kaisar Jerman itu memiliki kumis yang menjulang.

Sehingga, warga di sana menamai hewan primata ini dengan sebutan Emperor Tamarin.

Diketahui, hewan mungil ini hanya memiliki panjang tubuh berkisar 23 sampai 26 sentimeter.

Meski begitu, mereka memiliki cakar dan ekor yang panjang.

Panjang ekornya sekitar 35 sampai 42,5 sentimeter.

Berat badannya antara 220 sampai 900 gram.

Karena ukurannya kecil, emperor tamarin punya banyak predator, seperti kucing hutan, ajing hutan, dan burung buas.

Sebagian besar Emperor Tamarin ini berwarna abu-abu, dengan campuran rambut kuning halus di punggung dan sebaran warna merah karat di dada mereka.

Panjang ekornya sekitar 35 sampai 42,5 sentimeter.

Berat badannya antara 220 sampai 900 gram.

Karena ukurannya kecil, emperor tamarin punya banyak predator, seperti kucing hutan, ajing hutan, dan burung buas.

Sebagian besar Emperor Tamarin ini berwarna abu-abu, dengan campuran rambut kuning halus di punggung dan sebaran warna merah karat di dada mereka.

Mereka juga memiliki mahkota berwarna coklat keperakan, tangan dan kaki berwarna hitam, dan ekor berwarna coklat kemerahan.

Karakteristik paling khas dari spesies ini adalah kumisnya yang sangat panjang dan berwarna putih yang menjuntai hingga ke dada (dan memanjang melewati bahunya saat dibaringkan) dalam dua helai.

Seperti kebanyakan tamarin, spesies ini memiliki cakar di semua jari tangan dan kakinya kecuali jempol kaki, yang memiliki kuku.

Aktivitasnya lebih banyak dilakukan di atas pohon karena di sana tersedia banyak makanan dan aman dari predator.

Pada malam hari, binatang ini tidur di pucuk pohon untuk menghindari predator.

Emperor tamarin adalah binatang omnivora. Mereka makan tumbuhan dan binatang.

Mereka makan buah-buahan, serangga, pucuk-pucuk daun, reptil, dan telur burung.

Dipimpin Betina

Mereka hidup berkelompok dengan jumlah anggota antara empat sampai 40 anggota.

Tugas bapak adalah menggendong, sedangkan ibu menyusui dan membersihkan badannya.

Selain itu, emperor tamarin jantan dan sepertiga emperor tamarin betina hanya bisa melihat dua warna.

Sedangkan sisa betina bisa melihat tiga warna.

Namun, itu tidak masalah buat mereka. Mereka tetap bisa melihat pemangsa meskipun pemangsa itu tersamar.(tribun-medan.com)


Sumber:Tribunmedan