Berita24 - Portal Berita Profesional

Headline Utama

Trending

Berita Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Hamas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hamas. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Mei 2025

Israel Gempur Gaza, Hamas Sebut Ada Pengkhianatan dan Krisis Kemanusiaan Makin Parah



Jakarta. Berita24.info-


Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa serangan baru di Gaza akan menjadi operasi militer intensif yang ditujukan untuk mengalahkan Hamas. Namun, dia tidak merinci seberapa banyak wilayah kantong itu akan direbut.




"Penduduk akan dipindahkan, untuk perlindungan mereka sendiri," kata Netanyahu dalam sebuah video yang diunggah di media sosial X, dilansir Al Arabiya, Selasa (6/5/2025). Ia mengatakan tentara Israel tidak akan masuk ke Gaza, melancarkan serangan, lalu mundur. "Tujuannya adalah sebaliknya," katanya.



Kabinet keamanan Israel telah menyetujui perluasan operasi militer di Gaza termasuk "penaklukan" wilayah Palestina, kata seorang pejabat Israel pada hari Senin (5/5). Ini disampaikan setelah militer Israel memanggil puluhan ribu tentara cadangan untuk serangan itu.



Pejabat Israel mengatakan operasi yang diperluas itu "akan mencakup, antara lain, penaklukan Jalur Gaza dan penguasaan wilayah itu, serta pemindahan penduduk Gaza ke selatan demi perlindungan mereka."



Seorang pejabat keamanan senior Israel lainnya mengatakan "komponen utama dari rencana itu adalah evakuasi besar-besaran seluruh penduduk Gaza dari zona pertempuran... ke wilayah-wilayah di Gaza selatan."



Rencana itu, yang disetujui oleh kabinet Israel pada Senin (5/5), muncul di tengah desakan Israel agar warga Palestina meninggalkan wilayah itu.



"Program pemindahan sukarela bagi penduduk Gaza... akan menjadi bagian dari tujuan operasi itu," ujar pejabat keamanan senior Israel itu menambahkan.



Uni Eropa telah menyuarakan kekhawatiran dan mendesak Israel menahan diri, dengan mengatakan rencana itu "akan mengakibatkan lebih banyak korban dan penderitaan bagi rakyat Palestina."



Israel telah melanjutkan operasi besar di Gaza pada 18 Maret di tengah kebuntuan mengenai cara melanjutkan gencatan senjata selama dua bulan, yang sebagian besar telah menghentikan perang dengan Hamas. Israel sejak itu telah melakukan serangan udara intensif dan memperluas operasi darat di seluruh wilayah Palestina.



Tim penyelamat Gaza pada hari Senin mengatakan serangan udara Israel menewaskan sedikitnya 19 orang.



Sebagian besar penduduk Gaza tinggal di wilayah utara dan hampir semuanya telah mengungsi setidaknya sekali selama perang. Kabinet Israel yang meliputi Netanyahu dan beberapa menteri, "dengan suara bulat menyetujui" rencana yang bertujuan untuk mengalahkan Hamas dan mengamankan kembalinya para sandera yang ditawan di wilayah tersebut.



Sumber resmi mengatakan rencana tersebut mencakup "serangan dahsyat terhadap Hamas," tanpa menyebutkan rinciannya.

Sumber: Lenteranews.info

Sabtu, 25 November 2023

Warga Palestina Menyambut Gembira Para Tahanan yang Dibebaskan Israel Dalam Kesepakatan Pembebasan Sandera








YERUSALEM,Pos62.Online-


Kelegaan dan kesedihan dirasakan oleh warga Palestina setelah Israel membebaskan para tahanan dalam kesepakatan pembebasan sandera yang disepakati dengan pejuang Hamas .

Massa dalam jumlah besar, sebagian besar adalah pria muda, menyambut tahanan yang dibebaskan di Beitunia, sebuah kota dekat Ramallah di Tepi Barat yang diduduki. Mereka bersorak, membunyikan klakson, dan turun ke jalan sambil membawa bendera Palestina.

Beberapa di antara massa juga membawa bendera kelompok militan Hamas yang memblokade Gaza dan meneriakkan dukungan kepada Abu Ubaida, juru bicara sayap bersenjata kelompok tersebut.

Sebanyak 39 perempuan Palestina dan anak di bawah umur yang ditahan atas berbagai tuduhan dibebaskan berdasarkan perjanjian yang ditengahi oleh Qatar yang juga mencakup pembebasan 13 sandera Israel yang ditangkap oleh kelompok bersenjata Hamas selama serangan mereka terhadap Israel bulan lalu.

"Saya tidak bisa mengungkapkan perasaan saya. Syukurlah," kata Laith Othman (17), yang ditahan awal tahun ini karena dicurigai melempar alat pembakar dan dibebaskan pada hari Jumat.

“Situasi di dalam (penjara) sangat sulit,” imbuhnya sambil digendong di bahu seseorang sepanjang jalan seperti dikutip dari Channel News Asia, Sabtu (25/11/2023).

Ismail Shaheen, berbicara dari kamp pengungsi Dheisheh di Bethlehem, mengatakan dia sedang menunggu untuk melihat putrinya Fatima, yang ditangkap awal tahun ini, dituduh melakukan percobaan penikaman.

Ilmuwan komputer berusia 32 tahun, yang memiliki seorang putri berusia 5 tahun, ditembak saat penangkapannya. Shaheen mengatakan dia terkejut melihat putrinya menggunakan kursi roda ketika dia pertama kali diizinkan mengunjunginya di penjara, beberapa bulan setelah putrinya ditahan.

"Alhamdulillah dia dibebaskan dalam kesepakatan pertukaran ini," katanya.

“Kami senang dia akan dibebaskan, namun hanya sedikit saja yang bisa dibebaskan, karena kami tidak bisa mengabaikan kondisi buruk saudara-saudara kami di Gaza, di mana ribuan orang telah terbunuh,” imbuhnya.

Lebih dari 100 tahanan Palestina lainnya akan dibebaskan dalam empat hari mendatang dan lebih banyak lagi yang mungkin akan dibebaskan jika gencatan senjata diperpanjang.

Bagi keluarga tahanan Palestina yang dibebaskan oleh Israel memberikan kelegaan yang diwarnai dengan kesedihan atas pertempuran yang akan terus berlanjut di Gaza setelah berakhirnya gencatan senjata selama empat hari.

“Tidak ada kegembiraan yang nyata, bahkan kegembiraan kecil ini kami rasakan saat kami menunggu,” kata Sawsan Bkeer, ibu dari tahanan Palestina berusia 24 tahun, Marah Bkeer, yang dipenjara selama delapan tahun atas tuduhan penikaman dan penyerangan pada tahun 2015. Polisi Israel terlihat menggerebek rumahnya di Yerusalem sebelum putrinya dibebaskan.

“Kami masih takut untuk merasa bahagia dan pada saat yang sama, kami tidak memiliki rasa bahagia atas apa yang terjadi di Gaza,” katanya.

Para komandan Israel telah berjanji untuk membebaskan semua sandera saat mereka bersiap untuk melakukan kampanye di Gaza yang diluncurkan setelah serangan Hamas, yang menewaskan 1.200 warga Israel dan orang asing, menurut penghitungan Israel.

Sekitar 14.000 warga Palestina telah tewas dalam pemboman Israel di Gaza dan operasi darat yang diluncurkan bulan lalu dan militer mengatakan pihaknya sedang mempersiapkan tahap operasi berikutnya setelah gencatan senjata berakhir.


Sumber:Sindonews.com

Jumat, 10 November 2023

Di Tengah Berlanjutnya Pertempuran Antara Israel dan Kelompok Militer Palestina Hamas








Israel,Pos62.Online-


Seorang komandan tinggi militer Hamas yang memimpin 400 militan di Gaza Palestina, angkat bicara mengenai kondisi mereka.

Dari ucapannya, situasi mereka saat ini sangat sulit seiring gempuran Israel yang begitu intens dan masif.

Mereka kehilangan arah. Tidak tahu apa yang mesti dilakukan.

"Kami tidak tahu jalan mana harus diambil,” kata komandan militer Hamas menggunakan nama samaran Abu Mohammed, dalam wawancara eksklusif dengan The Daily lewat aplikasi Telegram terenkripsi seperti dikutip Daily Mail.

Ia tak menyangka Israel menggempur Gaza tanpa henti sebagai upaya balas dendam atas serangan mereka pada 7 Oktober.

Sebagai akibat serangan Israel, lebih dari 10 ribu jiwa meregang nyawa. Anak-anak dan perempuan paling banyak jumlahnya.

Baginya itu adalah kenyataan pahit yang begitu pedih dan menyakitkan.

"Kami tidak menyangka akan jadi seperti ini. Gaza kami tercinta dibombardir," lanjut dia.

Ia mulai mempertanyakan kepemimpinan Hamas Yahya Sinwar dan Ismail Haniyeh.

Dia mengklaim sebagai salah satu perencana serangan 7 Oktober lalu.

Menurut dia, serangan itu awalnya direncanakan hanya untuk membunuh tentara Israel dan menyanderanya sebagian untuk ditukar dengan militan Hamas yang ditahan.

Namun, ia menuduh pemimpin Hamas Yahya Sinwar bertindak seperti 'pejuang jalanan'.

Di menit-menit terakhir sebelum serangan, para militan muda diperintah untuk melakukan apa saja yang mereka suka.

"Pemimpin kami berbicara kepada generasi muda kami dengan mengatakan pergi, lakukan apapun yang kalian suka, ambil apa pun yang kalian suka."

"Anda lihat dan saksikan kami telah membunuh warga sipil dan menyandera 250 orang, itu tak direncankan sebelumnya," ucapnya.

Mestinya, serangan 7 Oktober lalu tidak menargetkan warga sipil Israel.

Namun, nasi sudah menjadi bubur. Kini mereka menghadapi pembalasan Israel yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya. 

“Alasan kami untuk berbicara adalah karena kami ingin menyuarakan pendapat kami kepada dunia. Masalahnya adalah karena kepemimpinan kami.”

Dia mengklaim bahwa komandan militer Hamas di Gaza telah terputus dari kepemimpinan politik. Sekarang hanya bergantung pada pembawa pesan seperti di zaman dulu.

Pada kesempatan tersebut, ia juga mengkritik pemimpin Hamas yang berada luar Gaza, tepatnya di Qatar dan Turkiye. Mereka masih hidup dengan tenang dan nyaman.

Sementara ia dan pasukannya harus menghadapi gempuran tentara Israel dan bertahan dengan hanya makan kurma dan minyak zaitun.

"Mereka menghancurkan kami," tandasnya.

Israel mengklaim sudah menghancurkan 130 terowongan sejak mereka membombardir Gaza pascaserangan Hamas 7 Oktober lalu.

Tak hanya terowongan, Israel membombardir tempat penyimpanan air dan oksigen yang selama ini digunakan oleh Hamas selama bertahan menghadapi serangan.

Situasinya kian memburuk di Gaza. Korban dari kalangan sipil terus berjatuhan meski mereka diberi kesempatan untuk keluar dari Gaza menghindari pertempuran.

Unjuk rasa di berbagai belahan dunia menuntut segera dilakukan gencatan senjata.


Sumber:Tribun

Senin, 30 Oktober 2023

Israel Perintahkan Evakuasi Ratusan Pasien RS Al-Quds, Bom Jatuh 50 Meter dari Rumah Sakit


 






Berita,Pos62.Online


Organisasi Bulan Sabit Merah Palestina (PCRS) menerima ancaman serius dari pasukan Israel untuk segera mengevakuasi RS Al-Quds, Minggu (29/10/2023).

PCRS mengatakan militer Israel berulang kali melakukan pengeboman di sekitar rumah sakit yang terletak di di daerah Tal al-Hawa, Kota Gaza.

Melalui platform X, RS AL-Quds mengatakan ada bom yang dijatuhkan 50 meter dari rumah sakit sejak pagi.

“Tentara Israel sengaja terus meluncurkan roket langsung di dekat Rumah Sakit al-Quds dengan tujuan memaksa staf medis, pengungsi, dan pasien untuk mengevakuasi rumah sakit,” kata organisasi medis itu dalam sebuah pernyataan, dikutip dari Al Arabiya.

Meskipun berjarak 50 meter dari rumah sakit, bom tersebut telah menyebabkan kerusakan dan membahayakan warga sipil.

“Hal ini telah menyebabkan kerusakan signifikan pada departemen rumah sakit dan membuat penghuni serta pasien mengalami sesak napas,” tambah pernyataan itu.

Oganisasi tersebut juga menerima panggilan telepon dari pasukan Israel yang memerintahkan mereka untuk mengevakuasi rumah sakit sebelum serangan terjadi.

Seorang juru bicara militer mengatakan kepada AFP, seruan ini adalah bagian dari seruan militer secara keseluruhan yang meminta masyarakat untuk menuju ke selatan Jalur Gaza.

PRCS melaporkan rumah sakit tersebut saat ini memberikan perawatan kepada ratusan pasien yang terluka, termasuk mereka yang berada di unit perawatan intensif dan bayi baru lahir yang berada di inkubator.

Sekitar 12.000 pengungsi sipil yang mayoritas adalah anak-anak dan perempuan, juga mencari perlindungan di gedung rumah sakit.

Kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, laporan ancaman untuk mengevakuasi RS Al-Quds 'sangat memprihatinkan'.

Menurutnya, sangat tidak mungkin untuk mengevakuasi rumah sakit dengan banyak pasien dan pengungsi.

“Kami tegaskan kembali tidak mungkin mengevakuasi rumah sakit yang penuh dengan pasien tanpa membahayakan nyawa mereka,” tulis Tedros Adhanom Ghebreyesus di X, sebelumnya Twitter.

Mengutip dari AlJazeera, ancaman ini muncul ketika Israel telah mengebom beberapa rumah sakit di wilayah kantong Jalur Gaza yang terkepung.

Beberapa rumah sakit ini menjadi sasaran serangan intensif selama tiga minggu terakhir yang telah menewaskan lebih dari 8.000 orang.

Sebagian besar korban adalah perempuan dan anak-anak.

Warga Palestina juga menyalahkan Israel atas ledakan di Rumah Sakit Arab al-Ahli pada 17 Oktober yang menewaskan hampir 500 orang.

Banyak dari mereka adalah warga Palestina yang mengungsi.

Namun Israel membantah terlibat dalam ledakan tersebut.


Sumber:Tribunnews

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu Menghadiri Pertemuan dengan Presiden AS








Jakarta,Pos62.Online-


Pengusaha top Israel, Amnon Shashua, mendesak agar Perdana Menteri Benjamin Netanyahu segera digulingkan karena pemerintahannya bersalah atas “kegagalan, disonansi dan ketidakmampuan” yang menyebabkan sejak orang-orang bersenjata Hamas menyeberang dari Gaza dalam serangan mematikan di kota-kota Israel selatan pada 7 Oktober 2023.

"Kita harus mengurangi kerugian kita dan melakukannya dengan cepat. Satu-satunya solusi terhadap situasi saat ini di Israel adalah mengganti pemerintah, dan hal ini perlu segera dilakukan," tulis Shashua, yang juga CEO perusahaan teknologi mobil self-driving Mobileye dalam sebuah opini di harian keuangan Calcalist, Minggu, 29 Oktober 2023.

Netanyahu menimbulkan keributan pada hari Minggu ketika menyerang kepala intelijennya, dengan mengatakan bahwa mereka tidak pernah memperingatkannya bahwa Hamas sedang merencanakan serangan, namun kemudian menarik kembali komentarnya dan mengeluarkan permintaan maaf.

Kantor Netanyahu, menolak mengomentari pernyataan Shashua.

Pemerintah, kata Shashua, yang tampaknya lebih mementingkan kelangsungan politiknya daripada “kebaikan negara,” sehingga dapat diganti tanpa mengadakan pemilu baru untuk meminimalkan gejolak politik, dengan pembentukan koalisi baru di dalam parlemen saat ini.

Netanyahu belum mengambil tanggung jawab atas kegagalan intelijen dan operasional, hanya mengatakan bahwa akan ada waktu untuk mengajukan pertanyaan sulit, termasuk tentang dirinya sendiri, setelah perang.

Para pejabat Israel mengatakan kejadian-kejadian menjelang dan termasuk penanganan serangan Hamas akan diselidiki, namun fokus saat ini adalah pada konflik tersebut.

Shashua ikut mendirikan perusahaan Mobileye pada 1999. Perusahaan itu dibeli oleh Intel pada tahun 2017 seharga $15,3 miliar dan tahun lalu kembali go public. Ia juga mendirikan bank digital One Zero dan perusahaan AI AI21 Labs.


Sumber:Tempo



Rabu, 25 Oktober 2023

Negara Yang Tidak Mengakui Israel Termasuk Indonesia Ada 28 Daftar Negara







Jakarta,Pos62,Online-


 Perang Israel melawan Hamas, terus berkobar. Israel menyerang habis-habisan Jalur Gaza dengan dalih untuk menekan Hamas, kelompok militan Palestina.

Jauh sebelum perang berkobar, Israel mendeklarasikan kemerdekaannya pada tanggal 14 Mei 1948. Namun, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) baru mengakui kemerdekaannya pada tanggal 11 Mei 1949. Saat itu, keanggotaan Israel dalam PBB disetujui oleh mayoritas dari 58 negara anggota dengan syarat tertentu.

Meskipun Israel telah masuk anggota PBB, hingga 2023 hanya 165 negara dari 193 negara anggota PBB yang mengakui kedaulatan Israel. Sementara sebagian besar negara Arab dan Muslim tidak mengakui Israel sebagai negara berdaulat. Berikut ini adalah negara-negara yang tidak mengakui Israel. 

Negara-Negara yang Tidak Mengakui Israel

Israel adalah sebuah negara atau wilayah yang berada di Timur Tengah, terletak di dekat garis pantai timur Laut Mediterania. Negara ini berkonflik dengan Palestina yang hingga kini masih berlangsung.

Konflik tersebut disebabkan oleh sengketa wilayah antara orang Yahudi dan sebagian besar orang Arab Muslim di mana kedua kelompok mengklaim kepemilikan atas tanah tersebut. 

Akibat perselisihan ini, terbentuklah dua negara terpisah yakni Israel dan Palestina. Palestina terdiri dari dua wilayah yang lebih kecil, Tepi Barat dan Jalur Gaza. Sementara, Israel hampir telah menguasai seluruh wilayah tersebut. 

Konflik Israel vs Palestina yang terjadi secara terus menerus menimbulkan tindakan solidaritas politik terhadap Palestina, yang kedaulatannya diakui oleh sekitar 139 anggota PBB. Hingga kini masih ada sekitar 28 negara yang tidak mengakui Israel, diantaranya:

1.Afghanistan

2.Indonesia

3.Maladewa

4.Qatar

5.Aljazair

6.Iran

7.Mali

8.Arab Saudi

9.Bangladesh

0.Irak

1.Mauritania

2.Somalia

3.Brunei

4.Kuwait

5.Nigeria

6.Suriah

7.Komoro

8.Libanon

9.Korea Utara

0.Tunisa

1.kuba

2.Libya

3.Oman

4.Venezuela

5.Djibouti

6.Malaysia

7.Pakistan

8.Yaman

Konflik di kawasan Timur Tengah, antara Israel dan Palestina masih terus berlangsung hingga sekarang. Sejumlah negara di seluruh dunia menaruh perhatian lebih terhadap krisis politik yang dialami dua negara tersebut. Hingga memunculkan beberapa kubu baik yang pro maupun kontra terhadap Israel. 

Meski masih ada negara-negara yang tidak mengakui kedaulatannya, namun banyak juga negara yang telah mengakui kemerdekaan Israel. Amerika Serikat menjadi negara pertama yang mengakui Israel. Presiden Harry Truman mengakui pemerintahan sementara Yahudi sebagai otoritas de facto negara Yahudi yang baru.

Tercatat, sebanyak 165 anggota PBB, seperti Albania, Mesir, Serbia, Argentina, Australia, Austria, Meksiko, Spanyol, Belgia, Amerika Serikat, dan lainnya, yang mengakui Israel sebagai negara berdaulat. Bahkan negara besar tersebut mulai melakukan kerja sama bilateral dengan Israel, seperti di bidang pendidikan, ilmiah, dan juga ekonomi. 

Bukan hanya negara Barat, negara Arab juga mulai meluluh terhadap tindakan Israel. Misalnya saja Mesir yang menandatangani pakta damai pada tahun 1979, kemudian diikuti Yordania tahun 1994 dan Mauritania di tahun 1999. Serta yang terbaru Uni Emirat Arab dan Bahrain.


Sumber:Tempo.co