Berita24 - Portal Berita Profesional

Headline Utama

Trending

Berita Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Gencatan Senjata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gencatan Senjata. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 November 2023

Warga Palestina Menyambut Gembira Para Tahanan yang Dibebaskan Israel Dalam Kesepakatan Pembebasan Sandera








YERUSALEM,Pos62.Online-


Kelegaan dan kesedihan dirasakan oleh warga Palestina setelah Israel membebaskan para tahanan dalam kesepakatan pembebasan sandera yang disepakati dengan pejuang Hamas .

Massa dalam jumlah besar, sebagian besar adalah pria muda, menyambut tahanan yang dibebaskan di Beitunia, sebuah kota dekat Ramallah di Tepi Barat yang diduduki. Mereka bersorak, membunyikan klakson, dan turun ke jalan sambil membawa bendera Palestina.

Beberapa di antara massa juga membawa bendera kelompok militan Hamas yang memblokade Gaza dan meneriakkan dukungan kepada Abu Ubaida, juru bicara sayap bersenjata kelompok tersebut.

Sebanyak 39 perempuan Palestina dan anak di bawah umur yang ditahan atas berbagai tuduhan dibebaskan berdasarkan perjanjian yang ditengahi oleh Qatar yang juga mencakup pembebasan 13 sandera Israel yang ditangkap oleh kelompok bersenjata Hamas selama serangan mereka terhadap Israel bulan lalu.

"Saya tidak bisa mengungkapkan perasaan saya. Syukurlah," kata Laith Othman (17), yang ditahan awal tahun ini karena dicurigai melempar alat pembakar dan dibebaskan pada hari Jumat.

“Situasi di dalam (penjara) sangat sulit,” imbuhnya sambil digendong di bahu seseorang sepanjang jalan seperti dikutip dari Channel News Asia, Sabtu (25/11/2023).

Ismail Shaheen, berbicara dari kamp pengungsi Dheisheh di Bethlehem, mengatakan dia sedang menunggu untuk melihat putrinya Fatima, yang ditangkap awal tahun ini, dituduh melakukan percobaan penikaman.

Ilmuwan komputer berusia 32 tahun, yang memiliki seorang putri berusia 5 tahun, ditembak saat penangkapannya. Shaheen mengatakan dia terkejut melihat putrinya menggunakan kursi roda ketika dia pertama kali diizinkan mengunjunginya di penjara, beberapa bulan setelah putrinya ditahan.

"Alhamdulillah dia dibebaskan dalam kesepakatan pertukaran ini," katanya.

“Kami senang dia akan dibebaskan, namun hanya sedikit saja yang bisa dibebaskan, karena kami tidak bisa mengabaikan kondisi buruk saudara-saudara kami di Gaza, di mana ribuan orang telah terbunuh,” imbuhnya.

Lebih dari 100 tahanan Palestina lainnya akan dibebaskan dalam empat hari mendatang dan lebih banyak lagi yang mungkin akan dibebaskan jika gencatan senjata diperpanjang.

Bagi keluarga tahanan Palestina yang dibebaskan oleh Israel memberikan kelegaan yang diwarnai dengan kesedihan atas pertempuran yang akan terus berlanjut di Gaza setelah berakhirnya gencatan senjata selama empat hari.

“Tidak ada kegembiraan yang nyata, bahkan kegembiraan kecil ini kami rasakan saat kami menunggu,” kata Sawsan Bkeer, ibu dari tahanan Palestina berusia 24 tahun, Marah Bkeer, yang dipenjara selama delapan tahun atas tuduhan penikaman dan penyerangan pada tahun 2015. Polisi Israel terlihat menggerebek rumahnya di Yerusalem sebelum putrinya dibebaskan.

“Kami masih takut untuk merasa bahagia dan pada saat yang sama, kami tidak memiliki rasa bahagia atas apa yang terjadi di Gaza,” katanya.

Para komandan Israel telah berjanji untuk membebaskan semua sandera saat mereka bersiap untuk melakukan kampanye di Gaza yang diluncurkan setelah serangan Hamas, yang menewaskan 1.200 warga Israel dan orang asing, menurut penghitungan Israel.

Sekitar 14.000 warga Palestina telah tewas dalam pemboman Israel di Gaza dan operasi darat yang diluncurkan bulan lalu dan militer mengatakan pihaknya sedang mempersiapkan tahap operasi berikutnya setelah gencatan senjata berakhir.


Sumber:Sindonews.com

Jumat, 10 November 2023

AS Umumkan Israel Setujui Jeda Kemanusiaan Selam 4 Jam Setiap Hari Di Gaza

 

Pos62.Online, AS - Amerika Serikat mengumumkan Israel menyetujui jeda kemanusiaan selama empat jam setiap hari.


Kesepakatan ini untuk memungkinkan bantuan kemanusiaan memasuki Jalur Gaza.


Juru bicara keamanan nasional Gedung Putih, John Kirby mengatakan jeda akan dimulai hari Kamis (9/11/2023).


Sehingga, ini memungkinkan orang-orang melarikan diri dan untuk pengiriman bantuan kemanusiaan, menurut laporan Reuters.

Jeda tersebut terjadi setelah diskusi antara pejabat Amerika Serikat (AS) dan Israel dalam beberapa hari terakhir, termasuk antara Joe Biden dan sekutunya, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.


"Kami telah diberitahu oleh Israel bahwa tidak akan ada operasi militer di wilayah ini selama masa jeda, dan proses ini akan dimulai hari ini," kata John Kirby, Kamis (9/11/2023), dikutip dari The Guardian.


John Kirby mengatakan, Israel akan memulai jeda selama 4 jam di Jalur Gaza utara.


Kami memahami bahwa Israel akan mulai menerapkan jeda empat jam di wilayah utara Gaza dengan pengumuman yang akan disampaikan tiga jam sebelumnya," lanjutnya.


Dia menggambarkan berita tersebut sebagai langkah pertama yang signifikan dan AS ingin melihatnya berlanjut selama diperlukan.


John Kirby mengatakan tidak ada gencatan senjata dan hanya jeda sementara.


Menurutnya, gencatan senjata antara Israel dan Hamas adalah keputusan yang tidak tepat karena akan membantu Hamas dan melegitimasi apa yang mereka lakukan pada Sabtu (7/10/2023).


John Kirby memastikan AS tidak akan mendukung hal itu saat ini.

Sebelumnya, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dikabarkan menolak usulan gencatan senjata tanpa membebaskan orang-orang yang disandera oleh Hamas.

Pada Kamis (9/11/2023), Presiden AS Joe Biden telah mendorong jeda lebih dari tiga hari untuk mengeluarkan para sandera Hamas.


Joe Biden mengatakan masih optimis.


Reuters melaporkan, para pemimpin intelijen AS dan Israel bertemu dengan para pejabat di Qatar untuk membahas kesepakatan untuk membebaskan para sandera.


Para pemimpin Hamas memiliki kantor politik di Ibu Kota Qatar, Doha.


Anggota senior kelompok militan Hamas juga telah bertemu dengan pejabat Mesir di Kairo untuk membahas situasi di lapangan

Serangan besar-besaran Israel terjadi untuk menanggapi serangan terbaru Hamas di Israel pada Sabtu (7/10/2023) pagi dengan menerobos perbatasan Jalur Gaza.


Hamas mengatakan, serangan itu adalah tanggapan terhadap kekerasan yang dilakukan Israel terhadap Palestina selama ini, terutama kekerasan di kompleks Masjid Al Aqsa, seperti diberitakan Al Arabiya.


Hamas menculik kurang lebih 240 orang di Israel dan meluncurkan ratusan roket, yang menewaskan lebih dari 1.400 orang di wilayah Israel.

Benjamin Netanyahu menyatakan perang melawan Hamas pada Minggu (8/10/2023) dan mengerahkan pasukannya untuk memblokade Jalur Gaza.


Selain membombardir Jalur Gaza, Israel juga meluncurkan serangan udara, memutus aliran listrik, air, membatasi pengiriman bantuan dan memperluas serangan hingga ke Yerusalem dan Tepi Barat.


Serangan Israel di Jalur Gaza menewaskan lebih dari 10.812 warga Palestina sejak Sabtu (7/10/2023) hingga perhitungan korban pada Kamis (9/11/2023), dikutip dari Al Jazeera.


Diperkirakan, lebih dari 2.450 orang lainnya, termasuk 1.350 anak-anak, dilaporkan hilang dan mungkin terjebak atau mati di bawah reruntuhan, menunggu penyelamatan atau pemulihan.


Sumber:TribunNews.Com



Sabtu, 28 Oktober 2023

Soal Gencetan Senjata Gaza RI Sala Satu Sponsor Resolusi PBB


 






Jakarta,Pos62.Online


Pemerintah Indonesia menyambut baik disetujuinya resolusi gencatan senjata kemanusiaan di Gaza pada sidang Majelis Umum PBB. Kementerian Luar Negeri (Kemlu) menyebut Indonesia termasuk salah satu yang mensponsori resolusi tersebut.

"Indonesia menyambut baik disahkannya resolusi Majelis Umum PBB menyikapi situasi Gaza (27/10). Indonesia termasuk salah satu co-sponsor resolusi tersebut," tulis Kemlu di akun X, Sabtu (28/10/2023).

Kemlu mengatakan hasil votingnya yakni 120 suara mendukung termasuk Indonesia, 14 menolak, dan 14 abstain.

"Hasil voting: 120 mendukung termasuk Indonesia, 14 menolak dan 14 abstain," tulis Kemlu.

Seperti diketahui, Majelis Umum PBB telah menyetujui resolusi yang menyerukan gencatan senjata kemanusiaan segera di Gaza. Resolusi tersebut diajukan oleh Yordania.

Dilansir BBC, Sabtu (28/10), resolusi tersebut -yang diajukan oleh Yordania atas nama negara Arab- juga mengutuk semua tindakan kekerasan terhadap warga sipil Palestina dan Israel, termasuk semua 'serangan teror dan tanpa pandang bulu'.

Hal ini untuk mengupayakan bantuan tanpa hambatan dan perlindungan terhadap warga sipil.

BBC menyebutkan terdapat 120 suara mendukung, 14 menolak, dan 45 abstain.

Resolusi majelis umum PBB memang tidak mengikat secara hukum, namun mempunyai bobot moral karena universalitas keanggotaannya.


Sumber:detiknews