Berita24 - Portal Berita Profesional

Headline Utama

Trending

Berita Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Dedy Muliadi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dedy Muliadi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 April 2025

Cegah Kenakalan Remaja, Dedi Mulyadi Ingin Pendidikan Militer di SMA

 Bandung. Berita24.info-

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi akan memberlakukan pendidikan militer bagi siswa SMA di Jawa Barat. Ia resmi mengumumkan  akan menggandeng TNI dan Polri dalam program pendidikan berkarakter untuk membina siswa yang terindikasi nakal. Program ini dijadwalkan mulai berjalan pada 2 Mei 2025 mendatang. 



Program pendidikan militer ini difokuskan untuk siswa yang sulit dibina dan terindikasi terlibat dalam pergaulan bebas atau tindakan kriminal. Peserta yang mengikuti program tersebut nantinya didasarkan pada kesepakatan pihak sekolah dan orang tua siswa. Lalu, apakah pendidikan militer untuk anak SMA yang dianggap nakal ini efektif untuk memberikan efek jera?



Pendekatan militer bisa bentuk karakter siswa Pengamat pendidikan Darmaningtyas menilai, langkah yang dilakukan pemerintah Jawa Barat dalam mengatasi kenakalan remaja dengan pendidikan militer perlu diapresiasi. Terutama penanganan yang dilakukan terhadap siswa yang terindikasi terlibat dalam pergaulan bebas dan tindakan kriminal. Menurut Darmaningtyas, anak-anak dalam kategori tersebut perlu mendapat perhatian dan perlakuan khusus. 



"Ya kalau ini (pendidikan militer untuk siswa SMA yang nakal) sepakat saja. Selagi tidak untuk semua murid," ujarnya kepada Kompas.com, Senin (28/4/2025).  Menurutnya, pendekatan militer bisa menjadi cara efektif untuk mengurangi kenakalan remaja. 



Namun, pendidikan militer yang diberikan kepada siswa nakal harus ditekankan pada pendidikan karakter atau pembentukan karakter siswa tersebut. "Pendidikan militer yang fokus membentuk karakter siswa bisa menjadi cara efektif. Biasanya ada faktor psikologis pada siswa yang kemudian harus lebih berhati-hati," jelas Darmaningtyas. 



Pendekatan militer tidak diperlukan jika... Meski pendidikan militer menjadi salah satu alternatif untuk mendisiplinkan siswa, Darmaningtyas juga mengingatkan pentingnya pendidikan karakter di sekolah. Pendekatan militer sebaiknya memang hanya ditujukan kepada siswa yang sulit diatur dan kenakalannya sudah melampaui batas seperti melakukan tindakan kriminal.



"Kalau pendidikan karakternya jalan, maka untuk mendidik yang nakal pun cukup melalui pendidikan karakter, tidak perlu pendidikan militer lagi," jelas Darma. Baca juga: Dedy Mulyadi Terapkan Pendidikan Militer untuk Siswa SMA, Apakah Tepat? Ia juga menyampaikan bahwa kedisiplinan tidak selalu identik dengan militer. Ia kemudian memberikan contoh sekolah-sekolah calon pastur (seminari) dan juga sekolah-sekolah swasta lainnya yang dapat menerapkan kedisiplinan secara baik. 



Sekolah-sekolah tersebut bahkan sama sekali tidak perlu menghadirkan militer di dalamnya.  "Lebih baik mendatangkan para sastrawan, seniman, dan kritikus ke sekolah itu lebih bermanfaat karena bisa mengajarkan sikap kritis, kreatif, dan inovatif," tandasnya. Menurutnya, seniman juga disiplin, karena hanya mereka yang disiplin berlatih dan berkarya hingga menjadi seniman unggul.


Kamis, 10 April 2025

Demi Ketertiban, Dedi Mulyadi Hentikan Aksi Minta Sumbangan Masjid di Jalan

 



Berita24. Info-

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi menghentikan sejenak perjalanan saat akan menghadiri acara Hari Jadi Kabupaten Sukabumi, Kamis (10/4/2025). 


Saat itu, dia melihat seorang bapak yang meminta sumbangan uang untuk pembangunan masjid di jalanan. 

"Jadi Bapak ini bikin macet jalan yaitu mungut uang pakai sair (alat penangkap ikan), untuk apa (mungut uang)?," tanya Dedi kepada bapak tersebut, pada unggahan di akun media sosialnya dan dikonfirmasi Kompas.com, Kamis. 


Bapak berkaus kuning itu mengatakan, ia sedang meminta sumbangan uang untuk biaya pembangunan Masjid Al-Abror di kampung itu.



Dedi kemudian menghentikan aksi minta sumbangan uang di jalan tersebut. Dia mengatakan, tidak boleh lagi meminta-minta untuk pembangunan masjid di jalan.



"Karena membikin macet dan membuat citra umat Islam jadi jelek. Bangun masjid dengan minta-minta di jalan," ujarnya. Bapak tersebut akhirnya bersedia menghentikan aksi tersebut. "Kenapa mau menghentikan," tanya Dedi.

Dengan polosnya, bapak tersebut menjawab karena dapat sumbangan dari Dedi. Dedi pun membantahnya, "ah henteu, pokoknya henteu (Ah tidak, pokoknya tidak)," kata Dedi sembari tersenyum.



Dedi mengatakan, sair seharusnya digunakan untuk menangkap ikapn di sungai, bukan untuk meminta sumbangan di jalan. "Sekarang yang suka nyair ganti nyairnya di walungan (sungai)," ujarnya.



Pada kesempatan itu, Dedi juga menyoroti sampah yang menutupi selokan di pinggir jalan. Dia mengatakan, membuang sampah sembarang merupakan perbuatan dosa. 



"Kalau pungut sampah ibadah. Pokoknya urang (warga) Sukabumi, urang (warga) Jabar, kudu eling ka Gusti (Allah SWT), eling ka diri, eling ka indung bapa, eling ka alam kabeh, eling ka sesama nu hirup (Harus ingat ke Tuhan, ingat ke ibu dan bapak, ingat ke alam semesta, ingat ke sesama manusia yang hidup)," katanya


Sumber: Harian62