Berita24 - Portal Berita Profesional

Headline Utama

Trending

Berita Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Bunuh Diri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bunuh Diri. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 November 2023

Merenungkan Kembali Tingginya Kasus Bunuh Diri

 

Jakarta,Pos62.Online-


Warga kota Kupang, Nusa Tenggara Timur dibuat terkejut. Sesosok perempuan berbaju merah tergeletak tak bernyawa di semak-semak. Sepintas melihat video dan foto yang beredar di WhatsApp, bagi mereka yang familier dengan kota Kupang, langsung bisa menebak lokasinya. Pasti di Liliba.

Sudah sejak lama, jembatan Liliba di Oebobo itu tenar di ingatan warga Kupang kalau bicara soal kematian. Berulangkali ditemukan mayat di bawah jembatan tersebut. Rata-rata mereka bunuh diri dengan cara terjun dari atas jembatan Liliba.

Jembatan ini adalah yang paling tinggi dibanding jembatan-jembatan lainnya di Kupang. Entah apa pula alasannya, ada cukup keyakinan bahwa jembatan Liliba adalah tempat bunuh diri paling ideal --jembatan pencabut nyawa paling sadis. Sekali terjun, semua remuk, nyawa melayang.

Mereka yang memilih mengakhiri hidup di Liliba pergi dengan macam-macam alasan. Si perempuan berbaju merah yang terakhir terjun ke dasar kali Liliba, lantaran tak kuasa menahan malu. Diberitakan, ia memilih mati di Liliba lantaran namanya tak masuk daftar wisudawati Poltekes Kupang, yang dijadwalkan berlangsung 10 Oktober 2023. Padahal, keluarga dari kampung halaman sudah tiba di Kupang untuk berpesta merayakan kelulusannya.

Lantaran gagal menggondol sarjana, pun tak menemukan penjelasan yang pas kepada keluarga yang sudah jauh-jauh datang, ia memilih bunuh diri. Dan, sebagai mahasiswi yang tinggal di Kupang, Liliba sekali lagi menjadi opsi paling realistis. Di jembatan Liliba yang punya kedalaman 500 meter itulah, ia menyudahi rasa malunya. Ia menutup telinga dari gunjingan tetangga.

Tak Kuat Menanggung Beban

Tatkala kabar itu tiba di gawai, saya berkomentar sinis. Masak hanya gara-gara wisuda seseorang rela mengakhiri hidup? Komentar serupa kemudian berseliweran di media sosial. Banyak yang menyayangkan keputusan perempuan itu. Kan hidup tidak langsung berakhir karena tunda atau bahkan gagal wisuda, kata netizen yang lain.

Saya kemudian bertanya lebih jauh. Apakah memang generasi kita sekarang serentan itu? Di hadapan masalah, sebagian dari kita tak kuat menanggung beban. Saya bisa bertanya demikian karena perihal mengakhiri hidup dengan metode bunuh diri terbilang cukup tinggi di Indonesia.

Menukil Goodstats.id (20/10), Polri melaporkan bahwa selama periode Januari - Juli 2023 terdapat 663 kasus bunuh diri di Indonesia. Angka tersebut meningkat sebesar 36,4% dibandingkan periode yang sama pada 2021, yaitu sebanyak 486 kasus.

Angka ini harusnya meninggalkan catatan penting bahwa ternyata ada sebagian dari masyarakat kita yang menjadikan bunuh diri sebagai opsi instan kala tak kuat lagi memanggul masalah. Dan, kita tidak pernah tahu, apakah teman atau saudara kita yang sedang menghadapi masalah dalam hidupnya, pun memikirkan bunuh diri sebagai solusi akhir.

Bila melihat fenomena bunuh diri, juga membaca respons di media sosial terhadap peristiwa bunuh diri, saya jadi ngeri membayangkannya. Ternyata cukup banyak yang memberi tanggapan bahwa ia pernah juga berpikir untuk bunuh diri. Itu karena masalah yang ia hadapi tampak seperti tak berujung.

Membangun Benteng Diri

Tak dapat dipungkiri bahwa dalam kehidupan ini selalu saja ada masalah. Ada masalah yang mungkin bisa kita atasi
sendiri. Tapi, ada juga yang rasanya melampaui kemampuan kita. Di level inilah masing-masing kita butuh dukungan. Lingkungan, teman sepergaulan, kerabat dekat, bisa jadi pendukung yang baik untuk kita bisa melewati masa-masa sulit itu. Namun, balik lagi, semua ada pada diri sendiri.

Karena itu, tak berlebihan kalau saya mengajak kita untuk mencoba membangun benteng untuk diri sendiri. Untuk kali ini, saya ingin menawarkan stoikisme sebagai batu bata untuk membangun benteng pertahanan diri. Tradisi filsafat stoikisme mengajarkan agar setiap kita fokus pada kemampuan diri sendiri. Tidak perlu hirau terhadap faktor di luar diri. Karena faktor-faktor tersebut berada di luar kendali kita.

Zeno, pendiri filsafat stoikisme, sebagaimana diuraikan dalam buku Sejarah Filsafat Barat karya Bertrand Rusell, mengatakan bahwa keutamaan sebagai manusia terletak dalam diri. Dan, keutamaan adalah kehendak itu sendiri. Maka, sesuatu yang baik dan buruk bergantung sepenuhnya pada diri sendiri.

Tak perlu mengutuk situasi di luar sana kala segala sesuatu tak berjalan sesuai harapan. Kembalilah pada diri sendiri. Selidiki apa yang masih kurang maksimal dikembangkan dalam diri, dan mulailah memperbaikinya. Dan, untuk setiap pencapaian, sekecil apa pun itu, apresiasilah. Berilah pujian pada diri sendiri karena telah meraihnya.

Jules Evans dalam bukunya Filosofi untuk Hidup dan Bertahan dari Situasi Berbahaya Lainnya mengutip Doa Penenang Hati dari Epiktetus, salah satu filsuf stoik. Kutipan doa itu berbunyi, "Tuhan, berilah aku ketenangan untuk menerima apa yang tidak dapat kuubah, keberanian untuk mengubah apa yang dapat kuubah, dan kebijaksanaan untuk mengetahui perbedaannya."

Penggalan doa ini mengajarkan agar kita punya kesadaran penuh bahwa ada hal-hal yang dapat kita kendalikan, dan dengan demikian dapat kita ubah, dan ada hal-hal yang jauh dari kemampuan kendali kita. Stoikisme menasihati, fokuslah pada hal-hal yang ada di dalam kendalimu.

Dalam kehidupan ini, sering kita berada dalam situasi yang tak menyenangkan. Karena itu, berbuatlah sebisa kita untuk mengubah hal-hal yang bisa kita ubah. Kalau dampaknya negatif, hentikan. Tapi, kalau positif, lanjutkan dan apresiasi dirimu karena sudah berkontribusi mengembangkan hal-hal baik.

Hemat saya, stoikisme adalah benteng tangguh bagi generasi kita hari ini. Ia adalah perisai untuk melindungi diri dari peristiwa atau isu di luar sana, yang cenderung liar dan tak terkendali. Filsafat stoik adalah jalan keluar bagi mereka yang kehilangan arah dan harapan atas kehidupan ini.

Si perempuan yang bunuh diri di Kupang yang saya singgung awal tulisan ini bisa jadi lupa mengapresiasi dirinya, yang selangkah lagi tiba pada masa akhir kuliah, meski tertunda sejenak. Ia kehilangan kegembiraan untuk melihat kehadiran keluarganya sebagai sebuah apresiasi dan kasih sayang. Ia malah fokus pada gunjingan tetangga dan respons orang-orang sekitar akibat tunda wisuda. Padahal, sudah pasti hal-hal tersebut berada di luar kendalinya.

Karena itu, mari kita beri apresiasi kepada diri sendiri untuk pencapaian-pencapaian yang sudah kita raih hingga hari ini. Fokus dan ulet mengembangkan diri secara maksimal. Dan, buah-buah baik akan berlimpah pada waktunya.


Sumber:Detik

Polres Sergai Olah TKP Dugaan Bunuh Diri

Sergai,Pos62.Online-

Polres Sergai, Olah TKP dugaan bunuh diri berinisial W (36), warga Dusun V Desa Jati Mulyo Kecamatan Pegajahan Kabupaten Serdang Bedagai, Rabu (8/11/2023).

Kasi Humas Polres Sergai, Ipda Brimen Sihotang mengatakan, Tim Inafis Polres Sergai melakukan Olah TKP meninggalnya seorang laki-laki diduga bunuh diri dengan cara gantung diri di dalam rumah di Dusun V Desa Jati Mulyo.

"Dengan upaya paksa, Tim Inafis Polres Sergai olah TKP dugaan bunuh diri karena rumah keadaan terkunci dari dalam" ungkapnya.

Informasi diperoleh dari Kasi Humas Polres Sergai, Ipda Brimen Sihotang saat ditemui di Polres Sergai Seirampah menyebutkan, sekira pukul 09.50 WIB, petugas piket Polsek Perbaungan mendapat informasi dari 

Bhabinkamtibmas Desa Jatimulyo, Aiptu Marwan bahwa di desa tersebut ada ditemukan warga yang telah neninggal dunia dengan cara gantung diri.

Mendapat informasi tersebut, Piket Polsek Perbaungan segera menghubungi Unit Inafis Satreskrim Polres Sergai, untuk segera datang ke lokasi kejadian.

"Saat tim Inafis tiba di TKP (tempat kejadian perkara), benar ada warga masyarakat berjenis kelamin laki-laki telah meninggal dunia. Namun saat tim Inafis tiba, korban telah diturunkan oleh pihak keluarga," ujarnya.

Berdasarkan informasi yang diperoleh di TKP, lanjutnya, korban pertama kali dilihat oleh saksi Riska Damayanti (25), warga sekitar. Sekira pukul 09.30 WIB, saksi Riska hendak masuk ke dalam rumah korban, akan tetapi pintu rumah korban terkunci. Saksi Riska lalu mengintip melalui jendela rumah korban, ternyata korban sudah tergantung di ruang tamu rumah tersebut.

Melihat itu, saksi Riska kemudian memanggil saksi Samiran (66) dan warga sekitar lainnya. Oleh pihak keluarga, korban selanjutnya diturunkan.

Hasil olah TKP, mendapati tali yang digunakan bunuh diri adalah Tali Nilon panjang 4 m. Sedangkan hasil pemeriksaan pada tubuh Korban tidak ada ditemukan tanda-tandakekerasan.

"Saat Tim Inafis melakukan pemeriksaan pada tubuh korban, tidak ada ditemukan tanda-tanda kekerasan. Pada leher korban masih terikat tali nilon, lidah korban tergigit, mengeluarkan darah dari hidung, dan mengeluarkan sperma dari kemaluannya. Pihak keluarga korban keberatan dilakukan outopsi" jelasnya


Sumber:Tribun

Kamis, 02 November 2023

Seorang Wanita Ditemukan Tewas Diduga Gantung Diri di Rumah nya


 






Pematang Siantar,Pos62.Online-


Seorang ASN perempuan berinisial RSP (38) ditemukan tewas di Kota Pematang Siantar, Sumatera Utara (Sumut). Korban ditemukan dalam keadaan tergantung di rumahnya.

"Seorang perempuan meninggal diduga bunuh diri berinisial RSP di rumahnya," kata Kasat Reskrim Pematang Siantar AKP Banuara Manurung, Rabu (1/11/2023).

Banuara mengatakan kejadian itu berawal saat suami korban berinisial JG tidak menemukan istrinya. Padahal biasanya istrinya selalu membangunkan mereka. JG lalu mencari istrinya dan mendapatinya dalam keadaan gantung diri di bagian dapur sekitar pukul 06.00 WIB.

"(Istrinya) biasa membangunkan setiap pagi. Selanjutnya, JG pergi ke arah dapur dan membuka pintu atas dapur dan melihat korban dalam keadaan tergantung dan tidak bernyawa," katanya

Setelah menemukan korban yang sudah tewas itu, JG langsung menghubungi Kapolsek Siantar Martoba. Dari laporan itu, pihak Polres Pematang Siantar dan Polsek Siantar Martoba langsung mendatangi lokasi kejadian untuk melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP).

"JG (langsung) menghubungi Kapolsek Siantar Martoba,"jelas Banuara.

Sesuai penjelasan suami korban, kata Banuara, korban mengalami perubahan sikap semenjak beberapa bulan lalu setelah dipindahkan ke divisi yang berbeda di Dinas Kesehatan Kota Pematang Siantar. Menurut suaminya, korban sering pulang lama hingga tidak ada waktu mengurus keluarga.

"Suaminya menanyakan kalau memang tidak betah di pekerjaanmu, biar kita urus namun korban menjawab sudah saya urus namun tidak berhasil," tutur Banuara.

Perwira pertama itu mengatakan setelah ditemukan, korban dibawa ke RSUD dr. Djasamen Saragih, Pematang Siantar untuk dilakukan visum. Namun, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan. Banuara menyebut pihak keluarga menolak jasad korban diautopsi. Setelah dilakukan visum, pihak polisi lalu menyerahkan mayat kepada keluarga korban.

"Korban dibawa ke RSUD dr. Djasamen Saragih untuk dilakukan visum pemeriksaan luar dan tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan. Polres Pematang Siantar telah menyerahkan mayat kepada keluarga korban untuk dikebumikan," pungkas Banuara.


Sumber:detik