Yogyakarta, idmpos.net-
Penutupan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan secara permanen menyisakan dampak ekonomi bagi para pelaku jasa pengangkutan sampah swasta di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Selepas diterpa kelesuan usaha, salah satu paguyuban jasa pengangkut sampah, 'Eker-Eker Golek Menir' kini menaruh harapan besar pada rencana pengoperasian Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di kawasan Piyungan.
Bukan tanpa alasan, dampak dari penghentian aktivitas TPA Piyungan membuat banyak di antara mereka gulung tikar atau memangkas volume layanan akibat keterbatasan kapasitas pengolahan mandiri.
Ketua Paguyuban Eker-Eker Golek Menir, Sodik Murwanto, mengungkapkan, masa-masa setelah TPA Piyungan ditutup menjadi fase paling berat bagi para anggotanya.
Langkah awal untuk mengakses tempat penampungan alternatif milik Pemerintah Daerah (Pemda) DIY sempat diupayakan, tetapi tidak membuahkan hasil lantaran prioritas pembuangan hanya diperuntukkan bagi armada dinas.
"Armada kabupaten ataubkota hanya memprioritaskan plat merah. Akhirnya kita kembalikan ke teman-teman, ada yang mengolah sendiri, residu dibuang ke penampung sekitar, atau kerja sama dengan warga," ujarnya, di sela silaturahmi anggota di Yogyakarta, Kamis (8/10/2026) malam.
Penyesuaian kebijakan terkait pengelolaan sampah di Yogyakarta yang cenderung drastis ini, sontak memukul kondisi finansial anggota secara signifikan.
Sodik mencontohkan, keterbatasan kemampuan mengolah sampah secara mandiri memaksa dirinya memangkas jumlah pelanggan hingga lebih dari separuh.
"Pendapatan jelas menurun. Kalau tidak bisa mengolah sendiri, ya akhirnya turun drastis. Seperti saya sendiri, nasabah yang dulunya 500 sekarang saya kurangi tinggal 200, karena kalau dikelola sendiri sudah tidak mampu," ungkapnya.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada keutuhan organisasi, di mana dari puluhan armada yang sebelumnya aktif menjangkau wilayah Kota Yogyakarta, Bantul, hingga Sleman, kini jumlah anggota tersisa 50 orang saja.
Sebagian anggota memilih banting setir ke beberapa profesi lain akibat tidak kuat menanggung biaya operasional dan ketiadaan lokasi pembuangan.
Berharap pada PSEL
Oleh sebab itu, wacana pembangunan fasilitas PSEL di kawasan Piyungan seluas 5,7 hektare yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2028 mendatang, bak angin segar bagi komunitasnya.
Dengan nilai investasi mencapai Rp2,5 dan kapasitas pengolahan hingga 1.000 ton sampah per hari, PSEL dinilai menjadi solusi jangka panjang atas sengkarut sampah di kawasan aglomerasi Kartamantul.
Harapan utama para pengangkut sampah swasta sederhana, Pemda DIY dan pengelola proyek PSEL berkenan merangkul, sekaligus memberi wadah legal bagi mereka untuk menyetorkan sampah.
"Kami mendukung. Harapannya dari paguyuban, ya ingin diwadahi, diperhatikan, dan dirangkul untuk masuk ke PSEL. Setelah penutupan kita tidak dikasih wadah lagi. Jadi dengan berdirinya PSEL, harapannya bisa jadi tempat penampungan sampah yang kami kumpulkan," katanya.
Sumber: jogja.tribunnews
