Berita24 - Portal Berita Profesional

Headline Utama

Trending

Berita Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 November 2023

Sejarah Rumah Sakit Bangkatan Era Belanda dan Jepang








Binjai,Pos62.Online-


Kota Binjai, yang bersebelahan dengan Kota Medan juga memiliki beragam bangunan bersejarah.

Satu diantara bangunan bersejarah yang nyaris hampir dilupakan adalah Rumah Sakit Bangkatan.

Rumah Sakit Bangkatan ini berada di Jalan Sultan Hasanuddin No 40, Kelurahan Rambung Barat, Kecamatan Binjai Selatan, Kota Binjai.

Rumah sakit ini sekarang milik PTPN II.

Sejarah Rumah Sakit Bangkatan 

Menurut beragam literasi yang ada, Rumah Sakit Bangkatan Kota Binjai ini dibangun pada masa kolonial Belanda, atau persisnya tahun 1908.

Pada awal pendiriannya, rumah sakit ini bernama Het Bangkattan Hospitaal Van De Deli Maatschappij Te Bindjai.

Meski namanya cukup panjang, tapi penamaan itu merujuk pada orang-orang Belanda yang sempat tinggal dan berkedudukan di Kota Binjai.

Belanda, masyarakat umum dibatasi masuk berobat ke Rumah Sakit Bangkatan tersebut.

Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa mendapat perawatan di rumah sakit bergaya arsitektur Belanda itu.

Biasanya, rumah sakit ini hanya melayani para pekerja, khususnya pekerja perkebunan asal Belanda.

Penjajahan Jepang

Rumah Sakit Bangkatan Kota Binjai yang berdiri di atas lahan seluas 8.738 m2, dengan luas bangunan 3.492m2 ini sudah melintasi berbagai zaman.

Mulai dari masa penjajahan Belanda, hingga masa penjajahan Jepang.

Pada tahun 1942, pasukan kolonial Jepang sempat menduduki Kota Binjai.

Selama berkuasa dibawah kepemimpinan Kagujawa (dengan sebutan Guserbu), Rumah Sakit Bangkatan tidak boleh lagi dimasuki oleh masyarakat umum.

Rumah Sakit Bangkatan Kota Binjai yang berdiri di atas lahan seluas 8.738 m2, dengan luas bangunan 3.492m2 ini sudah melintasi berbagai zaman.

Mulai dari masa penjajahan Belanda, hingga masa penjajahan Jepang.

Pada tahun 1942, pasukan kolonial Jepang sempat menduduki Kota Binjai.

Selama berkuasa dibawah kepemimpinan Kagujawa (dengan sebutan Guserbu), Rumah Sakit Bangkatan tidak boleh lagi dimasuki oleh masyarakat umum.

Bahkan, Belanda yang tadinya punya andil dalam pendirian bangunan Rumah Sakit Bangkatan juga tidak boleh mendapat pelayanan medis.

Hanya para pejabat dan petinggi Jepang saja yang boleh dilayani oleh Rumah Sakit Bangkatan tersebut.

Setelah para penjajah hengkang dari Indonesia, atau persisnya setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, Rumah Sakit Bangkatan kemudian mulai dinasionalisasi.

Ketika dulunya rumah sakit ini dikuasai Belanda dan Jepang, pengelolaannya kemudian diserahkan kepada PTPN II.

Sebab, merujuk pada sejarahnya, rumah sakit ini memang diperuntukkan bagi pekerja perkebunan ketika masa pendudukan Belanda.

Setelah diambil alih pengelolaannya oleh PTPN II, fasilitas kesehatan itu resmi menjadi Rumah Sakit Bangkatan Kota Binjai.

Saat ini, rumah sakit tersebut masih beroperasi, meskipun bangunannya sudah tampak tua karena tergerus zaman.


Sumber:Tribun




Senin, 30 Oktober 2023

Tema, Logo, dan Sejarahnya Hari Oeang ke-77 Republik Indonesia 2023


 






Berita,Pos62.Online


Hari Oeang Republik Indonesia (RI) ke-77 diperingati pada Senin, 30 Oktober 2023.

Hari Oeang RI merupakan salah peringatan mengenai pertama kali uang Indonesia diperoduksi dan diedarkan.

Setelah kemerdekaan Indonesia, perjalanan panjang dilakukan untuk mencetak mata uang sendiri sebagai alat pembayaran yang sah serta identitas negara.

Hal itu pertama kali diusulan oleh Menteri Keuangan (Menkeu), Sjafruddin Prawiranegara, namun usulan itu tidak langsung dilakukan karena terdapat keterbatasan dana dan tenaga ahli dalam hal keuangan.

Peringatan Hari Oeang RI ke-77 ini mengusung tema 'Kemenkeu Melayani Lebih Baik'.

Hal itu diambil dari unggahan Instagram @harioeangri, dan juga terdapat logo yang melambangkan angka 77 sebagai usia peringatan tahun ini.

Logo Hari Oeang RI ke-77 2023 ini terinspirasi dari Arch Foot yang merupakan struktur jembatan busur yang memiliki bentuk krusial.

Bentuk dari jembatan ini melambangkan koneksi dan fasilitas, serta melayani publik dengan baik.

Kemudian, terdapat lengkungan pada bagian kaki jembatan yang berfungsi untuk menyangga pondasi.

Hal itu memiliki peran penting dalam memberikan dukungan dan stabilitas.

Sejarah panjang lahirnya Oeang RI ini setelah Indonesia mengumandangkan kemerdekaannya.

Saat itu, negara membutuhkan mata uang sendiri sebagai alat pembayaran yang sah dan identitas/lambang negara.

Namun, saat itu masih berlaku juga mata uang Jepang di tahun 1946.

Kemudian Menteri Keuangan tahun 1945, Sjafruddin Prawiranegara yang pertama kali mengusulkan Indonesia memiliki mata uang sendiri.

Dihimpun dari laman Kementerian Keuangan, usulan yang dilakukan Menkeu itu tidak langsung dilakukan oleh pemerintah, karena keterbatasan dana dan tenaga ahli di bidang keuangan.

Hal itu bersamaan dengan memburuknya perekonomian Indonesia yang hanya bertumpu pada sketor pertanian saja.

Dengan keadaan itu, Belanda pun malah berencana untuk mengeluarkan mata uang baru yang akan meningkatkan inflasi di Indonesia.

Mengetahui hal itu, pemerintah Indonesia mengeluarkan peraturan bahwa mata uang Netherlands Indies Civil Administration (NICA) tidak berlaku sejak 2 Oktober 1945.

Kemudian pemerintah juga mulai membatasi peredaran mata uang Belanda dan Jepang, hingga larangan membawa uang ke daerah lain.

Apalagi mata uang Jepang dan Belanda ini dilarang untuk keluar dari Pulau Jawa-Madura jika tidak dizinkan oleh menkeu.

Pada akhirnya pemerintah Indonesia dapat memproduksi dan meresmikan mata uang Oeang RI pada 30 Oktober 1946.

Peresmian itu disampaikan oleh Wakil Presiden RI pertama, Mohammad Hatta melalui Radio Republik Indonesia (RRI) di Yogyakarta.

Pada peredaran Oeang RI pertama tercantum juga tanggal 17 Oktober 1945 sebagai tanda panjangnya proses untuk mempersiapkan dan menerbitkan Oeang RI sebagai identitas negara.

Nilai mata uang Orang RI ini ditetapkan melalui Undang-Undang tertanggal 25 Oktober 1946, 10 rupiah Oeang RI = 5 gram emas murni, kursnya terhadap uang Jepang 1:50 untuk Jawa-Madura dan 1:100 untuk daerah lainnya.

Penerbitan ORI selain ditujukan untuk menunjukkan kedaulatan Republik Indonesia juga bertujuan untuk menyehatkan ekonomi yang tengah dilanda inflasi hebat.

Pada awal beredarnya Oeang RI, setiap penduduk diberi Rp1 sebagai pengganti sisa uang invasi Jepang yang masih dapat digunakan sampai dengan 16 Oktober 1946, namun saat itu peredaran Oeang RI belum bisa menjangkau seluruh wilayah Indonesia.

Hal ini dikarenakan selain faktor perhubungan, masalah keamanan juga berpengaruh karena sebagian wilayah Indonesia masih berada di bawah kedudukan Belanda.

Maka dari itu, 30 Oktober diperingati sebagai Hari Oeang RI di setiap tahunnya.


Sumber:Tribunnews


Sabtu, 28 Oktober 2023

Kesultanan Deli yang Disebut Keturunan India


 






Berita,Pos62.Online-


Masyarakat di Sumatra Utara pasti sudah tahu mengenai Kesultanan Deli.

Sampai saat ini, jejak sejarah Kesultanan Deli masih bisa dilihat melalui Istana Maimun.

Namun, tahukah Anda siapa pendiri Kesultanan Deli?

Bagi sebahagian orang, mungkin yang mereka kenal hanya sultan saja.

Padahal, pendiri Kesultanan Deli adalah seorang yang gagah berani, yang disebut pernah memerintah di bekas Kerajaan Aru.

Adapun pendiri Kesultanan Deli itu yakni Gocah Pahlawan atau Laksamana Khoja Bintan.

Ia bergelar Tuanku Sri Paduka Gocah Pahlawan.

Menurut sumber Deli, nama asli Gocah Pahlawan adalah Muhammad Delikhan.

Ia diyakini berasal dari India.

Namun, sumber Serdang menyebutkan, bahwa nama asli Gocah Pahlawan adalah Yazid.

Dia berasal dari Pagaruyung, Sumatera Barat.

Sumber Serdang meyakini, bahwa Gocah Pahlawan ini adalah keturunan dari raja-raja Bukit Siguntang Mahameru.

Namun, baik sumber Deli maupun Serdang sepakat, bahwa Gocah Pahlawan sebelum mendirikan Kesultanan Deli sempat terdampar Pasai, Aceh.

Ia kemudian berjasa kepada Kesultanan Aceh Darussalam dalam peperangan di Bengkulu, Johor, dan Pahang.

Dia berasal dari Pagaruyung, Sumatera Barat.

Sumber Serdang meyakini, bahwa Gocah Pahlawan ini adalah keturunan dari raja-raja Bukit Siguntang Mahameru.

Namun, baik sumber Deli maupun Serdang sepakat, bahwa Gocah Pahlawan sebelum mendirikan Kesultanan Deli sempat terdampar Pasai, Aceh.

Ia kemudian berjasa kepada Kesultanan Aceh Darussalam dalam peperangan di Bengkulu, Johor, dan Pahang.

Ia bahkan disebutkan berhasil menawan dua puteri raja Pahang, yaitu Puteri Kamariah dan Puteri Khairul Bariah.

Karena dianggap berjasa, Gocah Pahlawan kemudian diangkat sebagai panglima oleh Kesultanan Aceh Darussalam.

Pada tahun 1612, Gocah Pahlawan kemudian dikirim ke bekas Kerajaan Aru dan memerintah di sana.

Selama memimpin, Gocah Pahlawan diberi tugas untuk melawan Portugis dan menjalin persekutuan dengan penduduk setempat, yang umumnya adalah suku Karo.

Saat memimpin itu, Gocah Pahlawan kemudian menikah dengan Puteri Nang Bulan (Baluan) beru Surbakti.

Puteri Nang Bulan Surbakti adalah adik kandung dari Datuk Itam Surbakti, yang merupakan Raja Urung (negeri) Sunggal.

Dalam literasi sejarah yang dimuat Media Center Serdang Bedagai disebutkan, setelah menikah dengan Puterai Nang Bulan Surbakti, Gocah Pahlawan kemudian diangkat menjadi Raja di Deli tahun 1630.

Selama memimpin Kesultanan Deli, Gocah Pahlawan kemudian dibantu oleh empat datuk atau Raja Urung Sunggal.

Raja Urung Sunggal bertugas selaku Ulun Jandi, yaitu mengucapkan taat setia dari Orang-Orang Besar dan rakyat kepada raja.

Kemudian, terbentuk pula Lembaga Datuk Berempat, dan Raja Urung Sunggal merupakan salah seorang anggota Lembaga Datuk Berempat tersebut.

Makamnya terdapat di Batu Jerguk, Delitua.

Kekuasaannya lalu diteruskan oleh anaknya, Tuanku Panglima Perunggit.


Sumber:Tribunmedan